Sebagai kontraktor spesialis pengaspalan, kami di PT. Kontraktor Aspal Indonesia telah menyaksikan langsung bagaimana manajemen yang tepat dapat menentukan keberhasilan sebuah proyek jalan. Jalan bukan hanya sekadar lapisan aspal, tetapi sebuah infrastruktur vital yang menopang mobilitas masyarakat dan roda perekonomian.

Pengalaman kami di lapangan menunjukkan bahwa proyek jalan bisa gagal jika tidak ada manajemen terstruktur. Keterlambatan, pembengkakan biaya, bahkan penurunan mutu sering kali muncul karena perencanaan dan pengendalian yang lemah. Melalui artikel ini, kami berbagi sudut pandang teknis berdasarkan praktik nyata yang telah kami jalankan, untuk membantu pembaca memahami bagaimana manajemen proyek jalan kami jalankan secara profesional.
Daftar Isi :
- 1 Konsep Dasar Manajemen Proyek Jalan
- 2 Tujuan dan Manfaat Manajemen Proyek Jalan
- 3 Tahapan Manajemen Proyek Jalan
- 3.1 1. Perencanaan Proyek Jalan
- 3.2 2. Pelaksanaan Proyek Jalan
- 3.3 a. Persiapan Lahan dan Material
- 3.4 b. Penggunaan Alat Berat
- 3.5 c. Tahapan Pengaspalan
- 3.6 d. Pengendalian Kualitas Sementara
- 3.7 3. Pengendalian Proyek Jalan
- 3.8 a. Quality Control Material dan Campuran
- 3.9 b. Monitoring Progres Proyek
- 3.10 c. Manajemen Risiko Lapangan
- 4 4. Evaluasi & Penyerahan Proyek Jalan
- 5 Faktor Kunci Keberhasilan Proyek Jalan
- 6 Faktor Kunci Keberhasilan Proyek Jalan
- 7 Estimasi Biaya dalam Manajemen Proyek Jalan
- 8 Keselamatan dan Kualitas dalam Proyek Jalan
- 9 Teknologi dan Inovasi dalam Manajemen Proyek Jalan
- 10 Studi Kasus Proyek Jalan
- 11 Best Practices dalam Manajemen Proyek Jalan
- 12 Kesimpulan dan Ajakan Bertindak
- 13 FAQ: Pertanyaan Seputar Manajemen Proyek Jalan
Konsep Dasar Manajemen Proyek Jalan
Secara ilmiah, manajemen proyek jalan adalah proses sistematis mengatur waktu, biaya, kualitas, serta sumber daya agar pembangunan infrastruktur jalan tercapai sesuai target.
Unsur Utama dalam Manajemen Proyek Jalan
- Waktu – Penjadwalan yang realistis berdasarkan produktivitas alat berat dan kondisi cuaca. Studi Bina Marga menunjukkan bahwa rata-rata kapasitas produksi asphalt finisher mencapai 120–150 ton/jam pada kondisi ideal.
- Biaya – Efisiensi anggaran melalui pengendalian penggunaan material dan pengaturan logistik.
- Kualitas – Menyesuaikan dengan standar Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2, termasuk pengujian Marshall untuk campuran aspal.
- Sumber daya – Kombinasi tenaga kerja terampil, peralatan yang siap pakai, serta material yang memenuhi standar teknis.
Proyek jalan berbeda dengan proyek konstruksi gedung. Variabel eksternal seperti kondisi tanah dasar, curah hujan, lalu lintas eksisting, dan regulasi pemerintah memiliki dampak besar. Oleh karena itu, rujukan kami adalah standar Bina Marga dan Kementerian PUPR.
Tujuan dan Manfaat Manajemen Proyek Jalan
Setiap proyek jalan tidak hanya berorientasi pada penyelesaian fisik, tetapi juga pada pencapaian umur layanan yang optimal, efisiensi biaya, serta manfaat sosial-ekonomi jangka panjang. Dari pengalaman kami di PT. Kontraktor Aspal Indonesia, manajemen proyek yang tepat akan memastikan jalan tidak hanya selesai dibangun, tetapi juga berfungsi sesuai standar teknis dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Tujuan Utama
- Menjamin kualitas konstruksi agar umur rencana jalan tercapai. Menurut Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 Revisi 2, umur rencana perkerasan jalan bervariasi:
- Jalan nasional: 20 tahun
- Jalan provinsi/kabupaten: 10–15 tahun
- Jalan lingkungan: 5–10 tahun
- Menyelesaikan proyek tepat waktu untuk meminimalkan biaya tambahan. Berdasarkan data Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK), keterlambatan lebih dari 10% durasi proyek dapat meningkatkan biaya hingga 15%.
- Mengurangi risiko kegagalan seperti retak dini (early cracking), bleeding, atau deformasi plastis. Data Balitbang PU menunjukkan bahwa penyebab 60% kerusakan dini jalan adalah karena lemahnya kontrol mutu dan perencanaan drainase.
Manfaat Bagi Masyarakat dan Pemerintah
- Efisiensi sumber daya: menggunakan setiap ton aspal secara optimal. Standar Bina Marga mengatur kebutuhan material campuran aspal beton berkisar 2,3–2,5 ton per 100 m² dengan ketebalan 5 cm, sehingga pengendalian volume material sangat penting.
- Kualitas jangka panjang: merancang jalan sesuai LHR (Lalu Lintas Harian Rata-rata) mampu menahan beban sesuai kelas jalan. Misalnya, jalan arteri primer dirancang untuk LHR > 20.000 kendaraan/hari.
- Dampak ekonomi: studi Kementerian Perhubungan (2021) menunjukkan bahwa peningkatan aksesibilitas jalan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah hingga 6–8% melalui penurunan biaya logistik dan peningkatan konektivitas pasar.
Tahapan Manajemen Proyek Jalan
1. Perencanaan Proyek Jalan
Tahap perencanaan merupakan fase paling krusial, karena menurut pengalaman kami di PT. Kontraktor Aspal Indonesia, lebih dari 70% keberhasilan proyek jalan ditentukan sejak awal. Perencanaan yang matang akan meminimalkan risiko teknis, biaya tak terduga, dan memperpanjang umur rencana jalan.
a. Survey Lapangan
Langkah awal adalah melakukan survey teknis yang detail. Salah satu uji terpenting adalah CBR (California Bearing Ratio) pada tanah dasar. Nilai CBR menentukan kekuatan tanah dalam menahan beban kendaraan dan menjadi acuan dalam menentukan ketebalan lapisan perkerasan.
- Menurut Manual Perkerasan Jalan Bina Marga (2017):
- CBR < 6% → diperlukan perbaikan tanah dasar atau lapisan pondasi bawah tebal.
- CBR 6–10% → tanah masih perlu stabilisasi sebelum konstruksi.
- CBR > 10% → dapat langsung dijadikan tanah dasar dengan lapisan pondasi standar.
Di lapangan, tim kami pernah menemukan kondisi tanah ekspansif dengan nilai CBR di bawah 5%. Tanpa perbaikan tanah, jalan akan cepat retak dalam 1–2 tahun. Solusinya adalah melakukan soil stabilization menggunakan kapur atau semen sebelum pengaspalan.
b. Desain Teknis
Berdasarkan hasil survey, ditentukan jenis perkerasan dan lapisan yang sesuai. Beberapa pilihan yang umum digunakan:
- Aspal Beton (AC-WC, AC-BC, AC-Base): cocok untuk jalan dengan lalu lintas tinggi (LHR > 5.000 kendaraan/hari).
- Lapen (Lapis Penetrasi Macadam): digunakan untuk jalan dengan beban lalu lintas ringan hingga sedang.
- Perkerasan Kaku (Rigid Pavement): dipilih pada jalan industri/logistik berat, meski biaya awal lebih tinggi.
Pemilihan jenis lapisan ini mengikuti Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 yang menekankan kesesuaian desain dengan kelas jalan dan LHR (Lalu Lintas Harian Rata-rata).
c. Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Tahap berikutnya adalah menyusun RAB (Rencana Anggaran Biaya). Perhitungan dilakukan berdasarkan:
- Volume pekerjaan (m² atau ton material).
- Harga satuan regional (mengacu pada SNI dan daftar harga satuan pemerintah daerah).
- Biaya pendukung (tenaga kerja, transportasi material, sewa alat).
Sebagai gambaran, biaya pengaspalan hotmix umumnya berkisar Rp 55.000 – Rp 150.000 per m², tergantung pada ketebalan dan jenis aspal yang digunakan.
d. Identifikasi Risiko
Setiap proyek jalan memiliki potensi risiko yang harus dipetakan sejak awal, antara lain:
- Banjir dan drainase buruk → dapat mempercepat kerusakan jalan karena infiltrasi air.
- Tanah ekspansif → berpotensi mengembang-kerut, menyebabkan retak dan gelombang.
- Lalu lintas berat → jika tidak diperhitungkan, umur rencana jalan bisa turun hingga 50%.
- Gangguan eksternal → seperti utilitas bawah tanah, perizinan, dan lalu lintas sekitar proyek.
Dalam proyek kami di kawasan industri Karawang, misalnya, lalu lintas truk kontainer yang intensif menjadi faktor dominan dalam perencanaan. Solusinya adalah memilih AC-Base tebal dengan tambahan lapisan binder course agar daya dukung jalan lebih optimal.
👉 Baca juga: Perencanaan Proyek Jalan: Survey, Desain, dan RAB
2. Pelaksanaan Proyek Jalan
Jika perencanaan sudah matang, tahap berikutnya adalah pelaksanaan konstruksi jalan. Inilah fase paling terlihat di lapangan, namun kualitasnya tetap bergantung pada ketepatan eksekusi sesuai desain. Berdasarkan pengalaman kami, ketelitian dalam pelaksanaan dapat memperpanjang umur rencana jalan hingga 30% lebih lama dibanding proyek tanpa pengawasan ketat.
a. Persiapan Lahan dan Material
Langkah pertama adalah clearing & grubbing, yaitu membersihkan area dari vegetasi, tanah lunak, atau material yang tidak stabil. Setelah itu dilakukan cut and fill untuk mencapai elevasi sesuai desain.
Material agregat dan aspal harus sesuai Spesifikasi Umum Bina Marga 2018, misalnya:
- Agregat kasar: nilai Los Angeles Abrasion ≤ 40% (menandakan ketahanan terhadap abrasi).
- Agregat halus: lolos saringan No. 200 maksimal 10%.
- Aspal penetrasi 60/70: titik lembek 48–56°C, viskositas sesuai standar ASTM D2171.
Di workshop internal, material diuji terlebih dahulu (uji Marshall, viskositas, kadar aspal optimum) sebelum dibawa ke lokasi.
b. Penggunaan Alat Berat
Pelaksanaan membutuhkan kombinasi alat berat modern agar hasil lebih presisi, antara lain:
- Asphalt Finisher: untuk menyebarkan campuran aspal panas dengan ketebalan merata.
- Tandem Roller & Pneumatic Roller: untuk pemadatan awal dan akhir.
- Dump Truck: mengangkut campuran dari AMP (Asphalt Mixing Plant) ke lokasi.
Pengaturan suhu menjadi kunci. Campuran aspal dari AMP biasanya 145–165°C, dan saat dipadatkan di lapangan harus tetap di atas 125°C agar ikatan agregat kuat.
c. Tahapan Pengaspalan
Pelaksanaan lapangan biasanya dibagi ke dalam tiga lapisan utama:
- Lapisan Pondasi (Base Course)
Menggunakan agregat kelas A/B, berfungsi mendistribusikan beban ke tanah dasar. Ketebalan 15–30 cm tergantung LHR. - Lapisan Antara (Binder Course / AC-BC)
Sebagai perantara yang menyatukan base dengan lapisan atas. Ketebalan 5–7 cm. - Lapisan Permukaan (Wearing Course / AC-WC)
Lapisan teratas yang kontak langsung dengan lalu lintas. Harus halus, kedap air, dan tahan aus. Umumnya tebal 4–5 cm.
Dalam salah satu proyek kami di kawasan logistik Bekasi, kami menggunakan struktur 25 cm agregat kelas A + 6 cm AC-BC + 4 cm AC-WC. Hasilnya, jalan mampu menahan beban truk kontainer hingga 30 ton per sumbu sesuai standar jalan arteri.
d. Pengendalian Kualitas Sementara
Selama pelaksanaan, dilakukan kontrol mutu di setiap tahap:
- Kepadatan agregat → diuji dengan sand cone test, target ≥ 95% kepadatan standar.
- Campuran aspal → diuji dengan Marshall Test, nilai stabilitas minimal 800 kg untuk lalu lintas sedang.
- Kadar aspal → harus sesuai Job Mix Formula (JMF) yang telah ditetapkan.
Monitoring harian dilakukan oleh site engineer kami, lengkap dengan laporan progres mingguan agar tidak ada deviasi dari RAB dan jadwal.
👉 Baca juga: Tahapan Pelaksanaan Proyek Jalan
3. Pengendalian Proyek Jalan
3. Pengendalian Proyek Jalan
Tahap ini merupakan jantung dari manajemen proyek jalan, karena meskipun perencanaan matang dan pelaksanaan rapi, tanpa pengendalian mutu (quality control) risiko kegagalan tetap tinggi. Berdasarkan pengalaman kami di PT. Kontraktor Aspal Indonesia, proyek jalan yang tidak memiliki sistem pengendalian terstruktur berpotensi mengalami kerusakan dini 2–3 tahun lebih cepat dari umur rencana.
a. Quality Control Material dan Campuran
Sebelum dan selama pelaksanaan, material diuji untuk memastikan kesesuaiannya dengan standar Spesifikasi Umum Bina Marga 2018. Beberapa uji utama antara lain:
- Uji Marshall → mengukur stabilitas dan flow campuran aspal. Standar Bina Marga:
- Stabilitas minimum: 800–1.200 kg (tergantung kelas jalan).
- Flow: 2–4 mm untuk lalu lintas sedang–berat.
- Uji Density dan Void → memastikan rongga udara (Air Voids) 3–5%, agar campuran tidak mudah retak maupun bleeding.
- Los Angeles Abrasion Test → abrasivitas agregat maksimal 40%.
Di salah satu proyek di jalur industri Karawang, kami menemukan nilai flow campuran 5,5 mm. Tanpa koreksi, lapisan berpotensi rutting. Tim kami segera menyesuaikan kadar aspal di AMP, sehingga campuran kembali sesuai JMF (Job Mix Formula).
b. Monitoring Progres Proyek
Pengendalian tidak hanya pada kualitas, tetapi juga pada waktu dan biaya. Metode yang kami gunakan meliputi:
- Daily Progress Report: mencatat volume pekerjaan, jam kerja alat, dan kondisi cuaca.
- Weekly Coordination Meeting: evaluasi capaian vs rencana.
- Critical Path Method (CPM): memastikan pekerjaan utama seperti base course dan binder course tidak tertunda, karena berdampak domino pada jadwal.
Data LPJK menunjukkan bahwa proyek jalan yang menggunakan monitoring mingguan dapat mengurangi risiko keterlambatan hingga 20%.
c. Manajemen Risiko Lapangan
Risiko pada proyek jalan tidak bisa dihindari, tetapi bisa dikendalikan. Beberapa langkah mitigasi yang kami terapkan:
- Cuaca ekstrem: menunda penghamparan aspal bila kelembaban > 80% atau ada potensi hujan, karena mengganggu adhesi aspal-agregat.
- Kerusakan alat: menyiapkan unit cadangan (misalnya tandem roller tambahan) agar pekerjaan tidak terhenti.
- Gangguan lalu lintas: rekayasa lalu lintas sementara bekerja sama dengan Dishub untuk menjaga keamanan pekerja dan pengguna jalan.
Dalam proyek pengaspalan jalan akses pelabuhan di Cilegon, curah hujan tinggi menjadi tantangan. Kami menerapkan real-time weather monitoring dan pengaturan shift malam, sehingga pekerjaan tetap selesai sesuai target.
👉 Baca juga: [Pengendalian Mutu Proyek Jalan]
4. Evaluasi & Penyerahan Proyek Jalan
Tahap terakhir dalam manajemen proyek jalan adalah evaluasi hasil pekerjaan sebelum dilakukan serah terima kepada pemilik proyek. Fase ini sangat penting untuk memastikan bahwa jalan yang dibangun tidak hanya memenuhi spesifikasi teknis, tetapi juga siap digunakan sesuai umur rencana.
a. Uji Kelayakan Jalan
Beberapa uji standar yang digunakan di Indonesia antara lain:
- Benkelman Beam Deflection Test
Digunakan untuk mengukur lendutan jalan akibat beban kendaraan. Menurut Manual Perkerasan Jalan Bina Marga 2017:- Jalan arteri primer: defleksi maksimum 1,0 mm.
- Jalan kolektor: defleksi maksimum 1,5 mm.
- Core Drill Test
Mengambil sampel aspal dari lapangan untuk memeriksa ketebalan aktual dibanding desain. Toleransi penyimpangan umumnya ±5 mm. - Uji Kekasaran Permukaan (IRI – International Roughness Index)
Nilai IRI < 4 m/km dianggap baik untuk jalan arteri dan tol.
Di salah satu proyek akses industri di Bekasi, hasil uji Benkelman Beam menunjukkan lendutan 0,95 mm, sesuai standar arteri primer. Hal ini membuktikan bahwa metode pemadatan dan desain lapisan yang kami gunakan tepat.
b. Dokumentasi Akhir Proyek
Semua proses pembangunan didokumentasikan dalam bentuk:
- As-Built Drawing: menggambarkan kondisi akhir jalan setelah konstruksi.
- Laporan Uji Material & Mutu: hasil laboratorium dan pengujian lapangan.
- Foto & Video Dokumentasi: bukti visual progres hingga hasil akhir.
Dokumentasi ini bukan hanya syarat administrasi, tetapi juga penting sebagai acuan pemeliharaan di masa depan.
c. Feedback dari Klien
Kami selalu mengadakan final meeting dengan pihak pemilik proyek (pemerintah atau swasta) untuk mengevaluasi hasil, menyampaikan laporan akhir, serta mendengar masukan langsung. Hal ini sejalan dengan prinsip continuous improvement yang kami terapkan di PT. Kontraktor Aspal Indonesia.
d. Serah Terima Proyek (PHO & FHO)
- PHO (Provisional Hand Over) → serah terima sementara setelah proyek selesai, dengan masa pemeliharaan 6–12 bulan.
- FHO (Final Hand Over) → serah terima akhir setelah masa pemeliharaan, jika tidak ditemukan kerusakan signifikan.
Selama masa pemeliharaan, kami tetap bertanggung jawab atas perbaikan kecil seperti retak rambut atau tambalan, sesuai kontrak kerja.
e. Program Pemeliharaan Pasca-Proyek
Berdasarkan data Ditjen Bina Marga, jalan tanpa pemeliharaan rutin dapat menurun kualitasnya hingga 40% hanya dalam 5 tahun. Karena itu, kami selalu merekomendasikan:
- Pemeliharaan rutin: pembersihan drainase, pengecatan marka ulang.
- Pemeliharaan berkala: overlay tipis (2–3 cm) setiap 5–7 tahun.
- Perbaikan darurat: tambal sulam segera bila ada lubang (potholes).
👉 Baca juga: [Evaluasi & Serah Terima Proyek Jalan]
Faktor Kunci Keberhasilan Proyek Jalan
Dari pengalaman kami di puluhan proyek, ada empat faktor krusial:
- Kompetensi tim proyek: engineer, surveyor, dan operator alat berat yang terlatih.
- Teknologi modern: drone untuk topografi, GPS untuk monitoring alat, serta software Primavera untuk scheduling.
- Manajemen waktu yang realistis: perhitungan produktivitas alat daripada kebutuhan volume.
- Koordinasi stakeholder: komunikasi efektif dengan pemerintah daerah, masyarakat sekitar, dan pemilik proyek.
Faktor Kunci Keberhasilan Proyek Jalan
Berdasarkan pengalaman teknis kami, keberhasilan proyek sangat dipengaruhi oleh:
- Kompetensi tim proyek.
- Teknologi modern seperti drone survey dan software manajemen.
- Manajemen waktu yang realistis.
- Koordinasi dengan stakeholder termasuk pemerintah daerah dan masyarakat sekitar.
Estimasi Biaya dalam Manajemen Proyek Jalan
KEstimasi Biaya dalam Manajemen Proyek Jalan
Komponen biaya terbesar biasanya berasal dari:
- Material aspal dan agregat (40–60% dari total biaya).
- Tenaga kerja termasuk mandor, operator, dan teknisi.
- Peralatan dan transportasi.
Berdasarkan proyek kami, biaya pengaspalan jalan umumnya berkisar Rp 55.000 – Rp 150.000 per m², tergantung pada jenis aspal, ketebalan lapisan, dan kondisi lapangan.
👉 Baca juga: Estimasi Biaya Proyek Jalan
Keselamatan dan Kualitas dalam Proyek Jalan
Standar Keselamatan (K3)
- Semua pekerja menggunakan APD lengkap (helm, sepatu safety, rompi reflektif).
- Rambu lalu lintas sementara dipasang untuk mengatur alur kendaraan.
- Safety briefing harian untuk meminimalisir kecelakaan kerja.
Kontrol Kualitas
- Audit lapisan jalan pada setiap tahap penghamparan.
- Dokumentasi pengujian material disimpan sebagai bukti mutu.
- Final inspection sebelum serah terima.
👉 Baca juga: Keselamatan Kerja dalam Proyek Jalan
Teknologi dan Inovasi dalam Manajemen Proyek Jalan
Kami aktif mengadopsi inovasi untuk efisiensi dan keberlanjutan, di antaranya:
- Warm Mix Asphalt (WMA): mengurangi konsumsi energi hingga 20%.
- Cold Mix Asphalt: solusi cepat untuk tambal sulam tanpa pemanasan.
- RAP (Recycled Asphalt Pavement): mendaur ulang aspal lama, mengurangi limbah hingga 30%.
- Software monitoring proyek yang memungkinkan klien memantau progres secara real-time.
👉 Baca juga: Teknologi Modern dalam Proyek Jalan
Studi Kasus Proyek Jalan
Pada proyek di kawasan industri Cikarang, kami menghadapi curah hujan tinggi yang berpotensi menunda jadwal. Dengan sistem monitoring real-time dan pengaturan jadwal kerja malam hari, proyek tetap selesai sesuai target.
Hasilnya, akses logistik tenant industri meningkat signifikan, dan biaya operasional transportasi mereka turun hingga 12%.
👉 Baca juga: Studi Kasus Proyek Jalan Berhasil
Best Practices dalam Manajemen Proyek Jalan
Dari pengalaman lapangan, kami merekomendasikan:
- Lakukan survey teknis dengan alat modern.
- Gunakan komunikasi terbuka antar tim.
- Siapkan checklist pekerjaan setiap tahap.
- Rencanakan mitigasi untuk cuaca buruk atau gangguan alat.
Kesimpulan dan Ajakan Bertindak
Manajemen proyek jalan adalah kombinasi antara perencanaan matang, pengendalian mutu ketat, serta pemanfaatan teknologi modern. Tanpa manajemen yang baik, proyek rawan gagal, meski material dan alat sudah terbaik.
Sebagai kontraktor berpengalaman, PT. Kontraktor Aspal Indonesia siap mendampingi Anda membangun jalan yang efisien, berkualitas, dan berkelanjutan.
📞 Hubungi kami untuk konsultasi gratis dan survey lapangan di lokasi proyek Anda.
FAQ: Pertanyaan Seputar Manajemen Proyek Jalan
Proses mengelola pembangunan jalan dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi agar efisien, tepat waktu, dan sesuai standar.
Tergantung panjang jalan dan kompleksitas. Jalan lingkungan bisa selesai 2–3 minggu, sedangkan jalan utama bisa 2–6 bulan.
Jenis aspal, ketebalan lapisan, kondisi tanah dasar, dan jarak distribusi material.
Spesifikasi teknis dari Bina Marga dan Kementerian PUPR, termasuk uji CBR, Marshall Stability, dan ketebalan lapisan.
Pilih kontraktor dengan pengalaman, peralatan modern, tenaga ahli, serta portofolio nyata yang terverifikasi.

PT. Kontraktor Aspal Indonesia Adalah Perusahaan Jasa Pengaspalan Jalan Hotmix yang sudah berpengalaman Sejak Tahun 2012, Memiliki Tim Profesional di bantu dengan Alat Berat Pengaspalan Terbaru dan Pabrik AMP Terbaik. Memberikan hasil pengaspalan jalan yang cepat dan awet. Bergaransi.

